Cerita Sebelumnya:
Cerpen: Dua Arti Lupa (3)
Rini segera tertunduk lemas di kursi makan. Mukannya cemberut. Ibu benar-benar lupa atau belas dendam sih? Soalnya akhir-akhir ini Rini suka melupa-lupakan tugas dari Ibu. Jangan-jangan Ibu sekarang sengaja memberi pelajaran kepadanya.
“Ya sudahlah, terpaksa ku bawa air putih ini saja,” kata Rini sambil membawa empat gelas ke ruang tamu.
Sambil duduk bersama teman-temannya Rini mengingat-ingat kejadian beberapa hari terakhir ini. Kalau sekarang dia merasa kecewa dan kesal, tentu begitu juga perasaan Ibu ketika ia melupakan janjinya kemarin. Duh, ternyata melupakan janji itu hasilnya tidak enak, ya.
Rini jadi menyesal. Dalam hati ia berjanji tidak mau sengaja melupakan pesan Ibu lagi. Apalagi cuma gara-gara novel.
“Apa boleh buat. Aku bilang saja ke teman-teman kalau Ibu lupa membuatkan makanan,” ucap Rini dalam hati. “Mereka kan juga tahu kalau Ibu sedang mengantar tetangganya yang mau melahirkan.”
Tak lama kemudian ketika sedang asyik-asyikan belajar, Ibu dan Aji datang tergopoh-gopoh.
“Wah, sudah mulai ya,” sapa Ibu pada teman-teman Rini.
“Maaf ya, tadi Ibu tidak sempat masak. Hampir saja Ibu lupa kalau kalian semua mau belajar bersama. Tapi jangan khawatir… Ibu bawakan nasi bungkus dan es teler buat kalian. Dijamin enak deh…” kata Ibu.
“Wah, asyik sekali… terima kasih ya Bu,” kata teman-teman Rini serempak.
Rini melihat Ibu tersenyum lebar. Pancaran mata Ibu penuh kasih sayang ketika menatapnya. Tak ada tanda-tanda sengaja ingin membalas dendam padanya. Rupanya Ibu benar-benar lupa. Ah, ia sudah berprasangka buruk pada Ibu.
Rini dan Ibu menuju ruangan yang penuh ember-ember besar. Meski begitu sempit tetapi Ibu dan Rini senang ketika berada di dapur. Biasanya kalau Rini tidak ada tugas sekolah, Rini selalu membantu Ibu membuat roti pesanan tetangga-tetangga Rini.
“Terima kasih ya, Bu. Ibu baik sekali. Rini sayang sama Ibu,” ucap Rini saat membantu Ibu menuang es teler di dapur.
Ibu memeluk Rini dengan erat. “Ibu juga sayang sama Rini.”
“Ibu, maafkan Rini karena beberapa hari ini Rini sering membuat Ibu kecewa. Rini sebenarnya sengaja melupa-lupakan bila disuruh Ibu, karena Rini ingin cepat pulang dan membaca novel. Rini benar-benar menyesal Bu, maafkan Rini ya Bu? Rini janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Rini dangan mata berkaca-kaca.
“Iya ya, Ibu maafkan kesalahan kamu. Ibu senang karena kamu sudah mau mengakui kesalahannya. Ibu lupa karena Ibu memang benar-benar lupa, bukan karena ingin balas dendam apada kamu,” jelas Ibu.
Rini membawa empat piring nasi bungkus dan es teler ke ruang tamu dan mempersilakan teman-tamannya makan. Sedangkan Ibu tetap di dapur karena akan melanjutkan membuat roti pesanan Ibu RT.
Dan setelah selesai belajar bersama, Rini menuju dapur untuk membantu Ibu menyelesaikkan pesanan roti yang akan diambil sore nanti.
by: Elanda Afidian
Label: Cerpen, Dua Arti Lupa
Cerita Sebelumnya:
Cerpen: Dua Arti Lupa (2)
Pagi itu Rini kaget. Waktu akan berangkat sekolah dan meminta uang untuk keperluan sekolah, Ibu bilang lupa.
“Ibu tidak punya uang, Rin. Ibu lupa minta sama Ayah tadi. Nanti saja kalau Ibu sudah menerima uang hasil pesanan roti. Besok saja ya bayarnya.”
“Terus jajannya?” Tanya Rini cemas.
“Ya, besok juga. Kan Ibu tidak punya uang dan lupa minta pada ayah” tegas Ibu.
Uuh, Rini kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga lupa. Rini barangkat ke sekolah dengan wajah cemberut.
Rini bersekolah di salah satu SMP negeri di Semarang, tetapi jauh dari kota. Ia murid pandai di kelasnya, selalu mendapat ranking kelas, dan aktif dalam kegiatan di sekolahnya.
Tett….tett….tettt….bel tanda istirahat pun berbunyi. Rini keluar kelas, tetapi ia tidak pergi ke kantin karena di sakunnya kini tak ada uang sepeser pun. Ia hanya duduk di kursi panjang yang ada di teras kelasnya bersama Kiki dan teman lainnya. Di situlah Rini mulai bercerita kepada Kiki kalau Ia telah melupa-lupakan tugas yang diberikan Ibu karena Rini sibuk membaca novel.
“Rin, seharusnya kamu bisa membagi waktu. kamu tidak boleh seenaknya membaca novel di saat yang tidak tapat. Pantas saja Ibu kamu marah,” ujar Kiki yang berada di samping Rini.
“Iya sih Ki, tapi aku juga ingin cepat menyelesaikan membaca novel ini biar aku bisa meminjam novelmu yang lainnya,” ujar Rini sambil memegang sebuah novel.
“Tapi tetap saja kamu salah Rin, Ibu minta tolong padamu dan kamu harus bersedia membantunya apapun masalahmu. Apa kamu mau disebut anak durhaka?” tutur Kiki sedikit emosi.
“Ya tidak Ki, aku tahu, tidak seharusnya sikapku begitu pada Ibuku sendiri. Terimakasih ya Ki, kamu sudah mengingatkanku,” jawab Rini.
Pulang sekolah Rini, Kiki, dan dua orang temannya menuju ke rumah Rini. Mereka akan belajar bersama dan mengerjakan tugas bahasa Inggris yang tadi diberikan oleh pak Irwan, guru bahasa Inggris baru di sekolah Rini.
“Assalamualaikum…,” Seru Rini tapi sepi tidak ada jawaban.
“Assalamualaikum…,” Seru Rini lagi sambil mengintip ke jendela rumahnya.
“Eh, Rini, tadi Ibu dan Aji pergi mengantar Bu Dewi yang meu melahirkan ke bidan. Ini kunci rumahnya,” kata Bu Rani tetangga sebelah yang muncul dari balik pagar.
Ibu Rini memang suka menolong, karenanya beliau disukai banyak orang di kampungnya.
“Oh, begitu ya Bu Rani. Terimakasih ya Bu sudah memberikan kunci ini,” kata Rini sambil tersenyum pada Bu Rani.
Begitu masuk ke dalam, Rini lansung ke dapur dan membuka seluruh wadah bertutup yang ada di dapurnya. Kok tidak ada makanan sama sekali.
“Aduuuh,” desisi Rini kecewa. Kok tidak ada makanan? Padahal Ibu kan tahu kalau Rini dan teman-teman akan belajar bersama hari ini. Malah sejak dua hari lalu Ibu sudah berjanji akan membuatkan masakan yang enak buat Rini dan teman-temannya.
Label: Cerpen, Dua Arti Lupa
Rini anak dari keluarga yang hidupnya cukup sederhana. Ayahnya seorang guru SD, sedangkan Ibu Rini tidak punya pekerjaan tetap. Tetapi di rumah Ibu Rini berusaha membantu ayah Rini mencari nafkah dengan menerima pesanan roti sederhana. Walaupun hidup sederhana tetapi Rini dan seorang adiknya cukup bahagia.
Hari Senin Rini pulang dari sekolah tergesa-gesa sambil membawa tumpukan buku. Begitu sampai di rumah, tanpa mengganti seragam ia langsung saja menelungkup di kursi, di sebuah ruangan yang paling ia sukai. Tidak cukup luas memang, hanya berukuran 3x3 cm2, tetapi baginya itu merupakan tempat yang sangat sejuk, tenang dan bisa membuat pikirannya berkonsentrasi ketika ia mengerjakan tugas atau hanya membaca-baca sesuatu. Yah di situlah, di ruang tamu sekarang Rini membaca novel yang tadi di pinjamnya dari Kiki.
“Rini,” suara ibu memanggil dari ruang tengah.
“Sudah kamu antar pesanan kue Bu Brata?”
“Wah Rini lupa Bu,” jawab Rini enteng.
“Ya ampun Rini! Bu Brata akan ada acara keluarga malam ini. Dan Ibu sudah berjanji mengantarnya siang ini juga.”
“Ya, tapi kan Rini lupa…” jawab Rini lagi sambil meneruskan membaca novel.
Ibu muncul di belakang Rini. “Kok kamu jadi pelupa begitu?” Suara Ibu terdengar kesal. “Kemarain, waktu Ibu minta kamu memposkan surat buat om Hasan, kamu bilang lupa.membeli gula pasir di warung, kamu bilang lupa. Mengembalikan mangkuk sayur Bu Alin, kamu juga bilang lupa. Kamu memang tidak mau disuruh Ibu ya?” Tanya Ibu tajam.
Tidak biasanya Rini lalai akan kewajibannya sebagai seorang anak. Tetapi akhir-akhir ini ia memang jarang sekali mengindahkan perintah Ibu karena ia selalu membaca novel yang ia pinjam dari temannya. Maklum uang sakunya tidak cukup untuk membeli sebuah novel.
“Rini memang lupa kok Bu,” Rini mencoba membela diri.
“Lalu, pulang sekolah tidak ganti baju, tidak shalat, tidak makan siang, langsung baca novel begitu, apa juga lupa?” Ibu menyindir Rini.
Rini bangkit dengan enggan. Rasanya sayang menghentikan bacaannya. Karena rasa penasaran akan jalan ceritanya yang baru sedikit ia pahami. Tapi Ibu benar. Ia belum shalat, makan, dan malah belum berganti seragam.
Rini masuk ke kamarnya dan bergegas ganti baju dan langsung shalat. Ibu menyusulnya masuk ke kamar.
“Kalau masih lupa-lupa juga, mungkin kamu perlu ke dokter, supaya dikasih obat anti lupa.” Ibu rupanya masih jengkel.
Setelah Rini shalat, ia langsung makan siang. Melihat Rini selesai makan dan mencuci piringnya Ibu pun mulai tersenyum lagi.
“Ibu mau ke rumah Bu Brata dulu ya. Jangan bertengkar sama adikmu,”Ujar Ibu sambil membawa sekeranjang Roti. Aji menjulurkan lidahnya pada Rini dari seberang meja makan lalu mengedip-ngedipkan matanya dengan lucu. Rini malah jadi gemas melihat adiknya yang tembem itu.
“Oh ya, ibu punya dua roti di dapur, makanlah! Tapi jangan dihabiskan semua, sisakan satu untuk adikmu ya.”
“Iya Bu,” jawab Rini senang karena mendapat roti.
Rini jadi tidak enak hati. Ibu pasti capek memasak, membuat roti pesanan tetangga, sambil membenahi rumah selalu kotor dan berantakan karena tingkah Aji yang tak bisa diam. Belum lagi setiap pagi Ibu selalu mencuci dan menyetrika pakaian yang banyak.
Mungkin terkadang Ibu tidak sempat lagi membuat roti pesanan tetangga. Tapi Ibu tetap harus membuatnya, karena dari pesanan roti itulah Rini dan keluarganya bisa terus hidup dan bisa terus bersekolah.
Rini memang pantas tidak enak hati. Sebenarnya ia tidak lupa pada semua pesanan Ibu. Ia ingat, tapi malas. Sudah tiga hari ini ia mendapat pinjaman novel-novel dari Kiki. Cerita-ceritanya bagus sekali. Dan Kiki punya banyak majalah dan novel seperti itu di rumahnya. Jadi, Rini selalu ingin cepat-cepat pulang, menyelesaikan bacaan dan meminjam novel lainnya pada Kiki.
Label: Cerpen, Dua Arti Lupa